Translate to
Saturday, January 10, 2015
Kita Manusia
Thursday, November 28, 2013
Syarat Kesepian
Kadang definisi tentang kesepian menjadi kabur. Mungkin karena dunia kita direduksi oleh berbagai hal yang dapat menguras tenaga dan juga menguras perkara bibir. Kerja bibir adalah saat dimana hanya kata kata dan bukan tindakan yang bekerja. Di tengah konsumerisme ini, walaupun memiliki berbagai sisi yang baik dan bagus ada juga sisi yang buruk. Manusia tidak bisa berelasi dengan Tuhan, manusia menjadi tidak diam, dan manusia merusak budaya
Ini mungkin adalah salah satu hipotesa saya mengenai relasi dengan Tuhan. Di dalam dunia yang sibuk dan memiliki1001 kemungkinan yang ada, banyak sekali yang mungkin terjadi di dalam satu momen. Dunia kadang tidak mengingat penciptanya walaupun kadang argumen saya bisa dibantah dengan angka pengikut religius. Namun perlu diingat ritus tidak sama dengan perbuatan nyata. Relasi terkuat adalah lewat doa. Mau apapun agamanya, doa merupakan sarana dan prasyarat yang lainnya adalab doa. Doa menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup ini, karrna hidup adalah sarana dalam eskatologis doa.
Manusia tidak bisa tenang, karena manusia tidak bisa diam. Interaksi manusia modern dibatasi oleh kepopuleran. Orang yang populis adalab orang yang mampu bersosialisasi, mampu mrnggaet popularitas, dan akhirnya hidup sejahtera. Redefinisi yang begitu sempit dan pragmatis. Lalu kenapa ketenangan bukan hakekat manusia? Mungkin karena manusia jarang memberi dirinya tempat untuk diam, untuk merenung
Manusia adalah homo homini lupus, manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Sikap destruktif tanpa ketuhanan akan berhenti pada sikap munafik dan naif. Manusia berperan hanya sebatas role model dan inilah kesalahan terbesar di dalam diri manusia yang memiliki sikap destruktif
Ketenangan adalah bagian integritas dari dalam. Saya bukannya menyarankan orang untuk meniru ini, tetapi nikmati dahulu ketenangan agar kita tidak ikut dalam arus jerat kebiasaan
Monday, September 16, 2013
Haruskah orang menjadi sadar
Setiap orang dilahirkan. Mau dia sebagai manusia dan juga sebagai makhluknya... ditengah perjalanan yang penuh dengan kedurhakaan dimana setiap langkah diawasi dan setiap kaki menuju arah menjadi semakin tercahaya, mungkinkah ini sekali lagi bahwa sang pencerah akan datang. Atau mungkinkah semuanya hilang sirna.
Hidup di ambang batas 17 ini kunantikan sesuatu... dimana nilai humanisme menjadi sukma dan juga nilai duniawi hilang trrhapus oleh jejak. Tanpa kata dan tanpa kiasan, aku serahkan seluruhnya kepada semua orang yang mengasihiku... aku berdoa kiranya rahmat diberikan kepada merrka... dan akhirnya aku terdiam tanpa bahasa walaupun hampir 4 bahasa aku kuasai... tetap saja dahan itu rapuh... ya kembali lagi mungkinkah aku yang menjadi dia yang tidak terselami... aku yang disukmai dia mrnjadi dirinya
Ambang 17 september 2013
Dimana aku bisa dituntut dimuka
Belajar dari teknologi posting s3