Soegija, Uskup pribumi pertama di Indonesia, merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Indonesia. Melalui surat yang dikirim oleh takhta apostolik Vatikan, Rm. Soegija diangkat menjadi Uskup Danaba wilayah Semarang. Hal ini menjadi suatu kebanggaan karena Soegija merupakan Uskup Pribumi Pertama dari Indonesia. Melalui tulisan ini, penulis ingin membagikan sharing bagaimana film "Soegija" menjadi butir perenungaan akan keberagaman, dan kemerdekaan.
Butir perenungan pertama mengenai keberagaman. Menyentuh sekali bahwa film ini menggali ide pemikiran Soegija. Dalam buku hariannya, Soegija menyatakan "Kemanusiaan itu satu, kendati kita berbeda dan beragam, namun kita adalah satu keluarga besar." Kita melihat bahwa situasi yang ada sekarang, bagaimana keberagaman didustai berbeda dengan kondisi ketika gencatan senjata oleh NICA ke kota Jogjakarta. Dalam film, kita dapat melihat bahwa agresi militer II oleh Belanda membuat kita tercengang. Banyak korban berjatuhan, dan juga banyak gerilyawan yang tertangkap. Keprihatinan Soegija menjadi suatu tindakan nyata dengan dibukanya Gereja Bintaran sebagai rumah persinggahan dan rumah sakit. Sungguh menyentuh bahwa apa yang ingin dikatakan dari sini, adalah bahwa sejak semula bangsa Indonesia, telah bersatu untuk mengusir bentuk-bentuk penjajahan. Alhasil, dimanakah rasa untuk bersatu itu sekarang? Pesan yang cukup tajam, dengan pesan yang relevansinya masih cukup terang hingga saat ini. Tidak usah melulu pada keberagaman dengan umat beragama yang lain, namun masihkah kita melihat bahwa keberagaman itu harus berada di tingkat Paroki bahkan Gereja? Keberagaman itu yang singkatnya, menurut dokumen Rerum Novarum sebagai "Anggota tubuh mistik Kristus, kita harus saling bersatu!"
Butir perenungan kedua adalah mengenai kemerdekaan. Dalam film yang terakhir ini, patut kita lihat bahwa Soegija menulis "Apa gunanya menjadi bangsa merdeka, jika kita gagal mendidik diri sendiri?" Penulis dapat merasakan bahwa Soegija khawatir apabila bentuk-bentuk penjajahan yang baru membuat bangsa Indonesia, terutama kaum mudanya merasa kemerdekaan itu sia-sia. Yang beliau inginkan adalah bahwa kemerdekaan itu harus menjadi suatu tonggak kemerdekaan bagi diri sendiri, karena setiap diri kita adalah merdeka. Dan kemerdekaan merupakan hak dari kita. Ajaran Sosial Gereja (ASG), Populorum Progressio patut menjadi acuan bagi kata-kata beliau, bahwa: "Patutnya Gereja mengakui kemerekaan yang dirasakan sebagai tanggung jawab bagi anggota Gereja untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat." Terutama, haruslah dikatakan bahwa kemerdekaan menjadi tanggung jawab bersama kita, untuk terus bertanggung jawab. Tanggung jawab ini tidak ringan, karena kita disuruh untuk mendidik diri sendiri. Pribadi inilah yang terus dihayati oleh Gereja, sebab ASG nantinya bermuara pada kebebasan individu, dan kebebasan individu merupakan esensi dari kemerdekaan.
Akhirnya, dua pesan yang ingin disampaikan oleh Soegija adalah bahwa Gereja harus beragam dalam arti kehidupan sosialnya, sebab hakikatnya Gereja merupakan satu anggota keluarga besar, kita harus saling mengasihi sesama anggota keluarga. Kedua adalah hakikat kemerdekaan, yaitu agar kita bisa mendidik diri dengan kemerdekaan yang telah kita miliki. Ad Maioreim Dei Gloriam.
|
Translate to
Wednesday, August 22, 2012
Apa yang Ingin Dikatakan Soegija
Friday, August 12, 2011
Seokarno, Penyambung Lidah Rakyat (1)
Saudara pembaca yang budiman, saya menulis artikel ini supaya para pembaca mengetahui sosok figur dari seorang "Founding Fathers" dari Republik kita yang tercinta. Saya memberi sinopsis dari buku yang saya baca yaitu Soekarno Menggugat! Saya harap sinopsis ini bisa membantu kita dalam mengenal sosok Soekarno yang keras bagaikan batu, namun lembut selembut kapas...
Skenario tahun itu 1923, Soekarno menghadap Rektor ITB dan berjanji tidak lagi ikut-ikutan dalam politik yang berjalan saat itu. Soekarno bukan mengiyakan, namun Soekarno berkata "Saya tidak akan mengabaikan kuliah lagi". Soekarno memang terlahir dari Blitar, kota di Jawa Timur. Sifat keras kepalanya sudah dibawa sejak kecil. Walaupun keturunan Jawa-Bali, namun Soekarno kecil
merupakan anak yang berani, pada usia 14 tahun, ia berpacaran dengan seorang teman sekolahnya.
Yang patut diberitahu pada jamannya ialah, bahwa Soekarno merupakan anak didikan asli Indonesia, ia belum pernah menempuh pendidikan luar negeri, yang dirasakan oleh Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir, namun literatur Soekarno berasal dari Sosialis-Komunis seperti Marxisme, dlsb. Literatur barat inilah yang memang berpengaruh dalam kebijakan luar negerinya.
Pertemuannya dengan Marhaen, petani di Jawa barat merubahnya dan mengadaptasikan nilai sosialis-marxis dalam bingkai keindonesiaan. Kita menyebutnya dengan Marhaenisme, keberpihakannya pada orang kecil dan bukannya pada kaum elit jamannya, membuat ia dicintai.
Karier politik Soekarno, pada tahun 1928 belum ada apa"nya. Ia masih kalah populer dibandingkan dengan Budi Utomo, kariernya baru melesat tajam saat 1945, disaat ia membacakan tentang Pancasila saat BPUPKI mengadakan rapatnya. Artikelnya ada di Dasar Negara. masuk dalam PNI, membentuk massa melalui pidatonya yang berapi-api dan bersemangat.
Ia dipercayakan menjadi Ketua Dokuritsu Junbi Inkai sehingga ia dianggap sebagai kolaborator jepang. Dalam wawancara dengan Cindy Adams perihal otobiografinya, ia memang mengakui bahwa dirinya merupakan kolaborator yang digunakan Jepang dalam propagandanya, bahkan ia mempropagandakan Romusha, bersama Syarifudin. Soekarno sangat menyesal dengan perbuatannya.
Bersambung...