Translate to

Showing posts with label Evangelisasi. Show all posts
Showing posts with label Evangelisasi. Show all posts

Tuesday, August 21, 2012

Antara yang berpengalaman dan Yang pembelajar


      Pernahkah kita merasa bahwa kita terus mengalami perubahan? Perubahan yang terjadi tidak saja membuat kita sadar. Bahkan kita takut bahwa zona nyaman atau comfort zone, mau diambil oleh orang lain. Perubahan itu menyertai kondisi jaman, dan setiap waktu ita disuguhi oleh berbagai macam perubahan. Baru-baru ini para ilmuwan menemukan partikel tuhan (Higgs Bason). Ini menunjukkan bahwa perubahan pasti terjadi, dan perubahan itu berdampak bagi kehidupan, bahkan keadaan tidak ada yang statis. Tentunya perlu diambil sikap arif dalam menghadapi perubahan. Dan dalam KEP angkatan ini, perubahan akan menjadi semakin nyata.
      Sejak sidang sinode KAJ I sampai dengan yang terakhir, konsep mengenai pembinaan kaum muda menjadi sangat penting. Namun, bisa dikatakan realisasi dari hal itu belum sepenuhnya terjadi. Kesediaan pengurus lama (Yang berpengalaman) dan kaum muda (yang notabenenya pembelajar) belum mau saling terbuka untuk mengisi apa yang kurang dalam tubuh gerejaNya, yaitu rasa kebersatuan. Memang sudah ada yang bisa saling mengisi, namun kesadaran untuk berbagi pengalaman harus terus dibina.
      Kami, para panitia bersyukur bahwa banyak kaum muda yang mau untuk belajar terlebih mengendapkan afeksi (perasaannya) di Kursus Evangelisasi Pribadi ini.Bahkan ada yang beberapa masih duduk dibangku SLTA atau SMU. Penulis mengharapkan bahwa mereka dapat menjadi penerus dari generasi ini. Tentu saja, proses pengkaderan masih akan terus berlanjut (on going formation). Berkat roh kudus juga, dapat kita saksikan umur yang sudah lanjut ingin dan merindukan menjadi pembelajar.
      Sesuai amanat dari ensilik sosial kepausan Rerum Novarum, bahwa martabat tiap pribadi orang merupakan sama. Maka, dapat kita katakan bahwa kesediaan kaum muda dan generasi sebelumnya dapat mengisi pengalaman, tanpa mendiskriminasikan. Penulis menulis ini, agar menjadi semakin sadar akan perubahan dalam gereja yang sedemikian cepat ini! Gereja memerlukan suatu terobosan bahkan insight untuk mengatakan kabar baik kepada semua orang bahkan kepada generasi muda yang serba teknologi atau generasi X.
       Menjadi suatu renungan bagi kita bersama, bahkan pada saat ini. Beranikah yang berpengalaman memberikan suatu pengalaman yang baru kepada pembelajar. Sehingga 'tubuh' Kristus menjadi sempurna di dalam ketersediaan untuk belajar.
       Akhirnya, proficiat terhadap kaum muda yang mau melayani dan berbagi dalam kursus ini. Gereja memerlukan kamu! Kamu menjadi suatu perpanjangan tangan dan penerus dari umat Allah. Selamat mengikuti kursus, berkat Tuhan selalu menyertai. Ad Maioreim Dei Gloriam.

Tuesday, March 6, 2012

Mewartakan Kabar Baik


Sebagai seorang manusia, kita akan merasa senang apabila kita diberi sesuatu yang baik. Terutama, kalau kita diberi suatu kabar yang baik (penghormatan, penghargaan, kemuliaan). Kita bisa terus memikirkan kabar itu, bahkan sampai diri kita terbayang-bayang oleh kabar baik itu. Khususnya, sebagai manusia kita juga mengisi hal-hal rohani dalam rangka mencari kebenaran. Pandangan Gereja Katolik mengenai kabar baik berbeda dengan kabar baik yang lahiriah seperti diatas. Kabar Baik yang ditawarkan oleh Kristus kepada Gereja adalah hati.
            Paus Benediktus berkata bahwa kabar baik harus diwartakan dan juga diperlukan di dalam jaman seperti ini. Kabar baik atau disebut evanggelion harus diberitakan kepada semua orang. Ketika Dokumen Ad Gentes berulang tahun ke 40 Paus Benediktus berkata: “[Evangelization] is not something optional, but the very vocation of the People of God, a duty that corresponds to it by the command of the Lord Jesus Christ himself”. Paus Benediktus dalam hal ini, menyatakan bahwa evangelisasi haruslah menjadi panggilanbersama sebagai Gereja. Gereja Katolik mengakui bahwa relasi dari hati merupakan proses evangelisasi (Pewartaan kabar baik).
            Sebagai suatu panggilan bersama semua orang baik om-om, tante-tante, kakak-kakak sebaiknya mewartakan kabar baik. Terlebih, selama kita hidup, kita diberi anugerah oleh Allah sendiri. Panggilan ini bukanlah panggilan tanpa sebab. Dijelaskan secara lebih nyata diatas, Paus berkata karena Evangelisasi telah diperintahkan (baca:ditegaskan) oleh Yesus sendiri (Bdk. Mat 28) Maka dari itu, tidak ada salahnya bagi kaum muda sekalipun, bagi orang tua sekalipun untuk menunda tugas yang diberikan oleh Allah sendiri.
            Gereja Maria Bunda Karmel memiliki wadah untuk kita belajar bersama sebagai seorang yang ingin mewartakan kabar baik. Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) ke 14 yang diselenggarakan merupakan suatu panggilan sebagai warga Gereja untuk turut berpartisipasi mengikuti KEP ini. Sebagai penutup, Paus dalam audiensinya di Austria kepada para Imam berkata: “Continue to walk in the faith and, faithful to the mandate that has been entrusted to you, go out with solicitude and joy toward all creatures and pass on to them the gifts of salvation...”Bahwa rahmat Evangelisasi adalah untuk terus hidup dengan Iman, Iman yang diberi dan dipercayakan kepadamu, diutus dengan rasa penuh syukur.
            Apakah anda tertarik menyebarkan kabar baik yang telah dipercayakan kepada kita oleh Kristus sendiri?  Jawablah dihati anda, sebab hati yang penuh kasih dan percaya akan tugas yang diberikan oleh Allah merupakan rahmat terindah.  Jika anda tertarik, sepulang misa datanglah ke stand-stand kami yang sudah ada di depan pintu Gereja, daftarkan diri anda untuk ikut serta dalam proses menyebarkan kabar baik. Kabar baik dari hati ke hati. Semoga rahmat panggilan ini membuahkan iman, kasih, dan pengharapan. Amin

Monday, January 30, 2012

Menjadi Pribadi yang Diinjili


           Sebelum Yesus naik ke Surga, Yesus memberikan pesan terakhir kepada para muridnya, bahwa kabar baik itu harus diwartakan dimanapun mereka berada (bdk. Mat 28) Hal inilah yang membuat pengorbanan (sacrifire) yang mau tidak mau harus dilakukan. Kita melihat Petrus yang mengalami siksaan sebelum akhirnya dipermuliakan bersama para kudus. Namun, dari kisah Petrus yang terkenal “Quo Vadis?” dimana Yesus yang menampakan diri ketika Petrus putus asa dan hendak meninggalkan Kota Roma. Dari sanalah kita melihat, bahwa manusia seperti St. Petrus pun merupakan pribadi yang rapuh.
            Pribadi yang rapuh, pribadi yang berdosa merupakan ciri khas dari semua orang. Kedagingan kita mungkin menjadi penyebab dari diri kita yang hari demi hari semakin jauh dari Allah. Paulus memberi banyak penjelasan tentang kedagingan dan kerohanian, yang memberi peneguhan bahwa untuk menjadi Kristen (Pengikut Kristus) harus melalui perjuangan. Per Aspera Ad Astra, Through difficulties to The Star.
            Dan kitapun menjadi sadar bahwa perjuangan itu harus dilakukan dengan tindakan. Tindakan yang semakin bisa mendekatkan kita pada pencipta kita. Salah satu ciri khas dari manusia, yaitu selain mencari kekayaan di dunia ini, manusia juga haus akan kebenaran. Kebenaran untuk bertindak secara baik. Tindakan yang harus kita lakukan adalah mengalami pertobatan. Melalui pertobatan, atau disebut juga metanoia. Kita menemukan diri kita yang hilang. Sebagai orang Katolik, kita berpedoman dengan dan melalui Kitab Suci, terlebih sinoptis kisah Kristus yang disebut Injil.
            Di dalam suatu perjumpaan dengan kehidupan sehari-hari, kadang kita tidak yakin dengan perbuatan ataupun tindakan kita, oleh karena itu kita harus kembali kepada Injil dimana ada semangat Kristiani. Poin yang paling penting adalah bagaimana sikap kita mengilhami orang lain. Waktu sidang FABC, Federasi Uskup-uskup Asia, ditekankan bahwa poin yang paling penting dari suatu kesaksian Kristiani, yaitu kesaksian keseharian hidup kita.
            Menyadari bahwa pertobatan menjadi pangkal keselamatan Kristiani, untuk itu haruslah setiap waktu kita menyadari keterbatasan manusia. Sebagai seorang Kristiani kita juga harus memberi kesaksian, suatu pembawaan kabar baik bagi siapapun yang ada di bumi ini. Kabar baik yang kita bawa ini merupakan suatu bahan evangelisasi. Jadi, evangelisasi itu berdamai dengan diri sendiri, sesama, dan akhirnya diutus untuk menjadi saksi. Saksi akan kontemplasi yang aktif, larut tetapi tidak hanyut.
            Akhirnya, semoga tulisan penulis yang singkat ini kurang lebih dapat menerangkan secara kasar mengenai evangelisasi, dan semoga ada yang tergerak menekuni bidang ‘kabar baik’ sehingga Kerajaan Allah semakin dipermuliakan dan kita diangkat menjadi anak-anakNya.

Tentang Saya

My photo
Dimensi kosmos yang ingin mengembangkan horizonnya

Pengunjung Berasal